Selasa, 26 Juni 2012

askep antok




ASUHAN KEPERAWATAN PADA SISTEM KARDIOVASKULER DENGAN GANGGUAN ANGINA PEKTORIS

O
L
E
H

I PUTU SUMARIANTO

ANGINA PEKTORIS

  1. KONSEP DASAR MEDIS
a.      Pengertian
Angina pektoris adalah suatu sindroma klinis yang ditandai dengan episode atau paroksisma nyeri atau perasan tertekan di dada depan.1)
Angina pektoris adalah nyeri dada yang menyertai iskemia
miokardium.2)
Angina pektoris adalah nyeri jantung yang timbul bilamana beban terhadap jantung menjadi terlalu besar dibandingkan dengan aliran darah koroner.3)
b.      Etiologi
Penyebab diperkirakan berkurangnya aliran darah koroner, menyebabkan suplai oksigen ke jantung tidak adekuat atau suplai oksigen jantung meningkat.
Sejumlah faktor yang dapat manimbulkan nyeri angina ;
1)      Latihan fisik dapat memicu serangan dengan cara meningkatkan kebutuhan oksigen jantung.
2)      Pajanan terhadap diingin dapat mengakibatkan vasokontraksi dan peningkatan tekanan darah , disertai peningkatan kebutuhan oksigen
3)      Makan makanan berat akan meningkatkan aliran darah kedaerah mesentrik untuk pencernaan sehinggia menurunkan ketersedian darah untuk suplaui jantung (Pada jantung yang sudah sangat parah , pintasan darah untuk pencernaan membuat nyeri angina sekin buruk ).
4)      Stres atau berbagai emosi akibat situasi menegangkan , menyebabkan frekuensi jantung meningkat ,akibat pelepasan adrenalin dan meningkat tekanan darah Dengan demikian beban kerja jantung juga meningkat .





c.       Patofisiologi
Angina pektoris yaitu nyeri dada yang menyertai iskemia miokardium .Mekanisme pasti bagaimana iskemia dapat menyebabkan nyeri masih belum jelas.Agaknya reseptor saraf nyeri terangsang oleh metabolit yang tertimbun atau disuatu zat kimia antara yang belum diketahui , atau oleh stres mekanik lokal akibat kelainan kontraksi miokardium .Nyeri biasanya digambarkan sebagai suatu tekanan substernal , kadang –kadang menyebar ke sisi medial lengan kiri.Tangan yang menggenggam dan diletekkan diatas sternum melukiskan pola angina klasik.























d.      Manifeatasi klinik
Iskemia otot jantung akan menyebar nyeri dengan derajat yang bervariasi , mulai dari rasa tekanan dada atas sampai nyeri hebat yang disertai dengan rasa takut atau rasa akan menjelang ajal .Nyeri sangat terasa pada dada di daerah belakang sternum atas atau sternum ketiga (retrosternal).Meskipun rasa nyeri biasanya terlokalisasi ,namum nyeri tersebut dapat menyebar keleher ,dagu ,bahu dan aspek dalam ekstremitas atas .Pasien biasanya memperlihatkan rasa sesak ,tercekik dengan kualitas yang terus menerus .Rasa lemah atau baal di legan atas ,pergelangan tangan dan tangan akan menyertai rasa nyeri .
e.       Penatalaksanaan
·         Nitrogliserin untuk menurunkan komsumsi oksigen jantung yang akan mengurangi nyeri angina. Diletakkan di bawah lidah atau di pipi dan akan menghilangkan nyeri iskemia dalam 3 menit
·         Salep nitrogliserin topikal tersedia dalam bentuk lanolin-petrolatum digunakan pada pasien yang mengalami angina pada malam hari  atau harus menjalankan aktivitas dalam waktu yang cukup lama karena mempunyai efek jangka panjang sampai 24 jam.
·         Penyekat beta adrenergik,  bila pasien tetap menderita nyeri dada meskipun telah mendapat nitrogliserin dan merubah gaya hidup maka perlu diberikan prepanolol hidroklorit berfungsi untuk menurunkan komsumsi oksigen dengan menghambat impuls simpatis ke jantung.
·         Antagonis ion kalsium/penyekat kanal. Antagonis / penyekat ion kalsium meningkatkan suplai oksigen jantung dengan cara melebarkan dinding otot polos atrial koroner dan mengurangi kebutuhan jantung dengan menurunkan tekanan arteri sistemik juga beban kerja ventrikel kiri. Yang biasa digunakan ; nifedipin ( prokardia ), verapamil ( isoptin, Calan ) dan diltazem ( cardizem ). Diberikan tiap 6-12 jam. Untuk setiap individu efek terapeutiknya berbeda.
·         Ada cara lain yang diperlukan untuk menurunkan kebutuhan oksigen jantung pasien harus berhenti merokok.


f.       Diagnostik Tes
·         EKG ;Biasanya normal bila pasien istirahat tetapi datar atau depresi pada segmen ST gelombang T menunjukkan iskemia. Peningkatan ST atau penurunan lebih dari 1 mm selama nyeri tanpa abnormalitas bila bebas nyeri menunjukkan iskemia miokard transien .Distrimia dan blok jantung ada .
·         Pemantauan EKG 24 jam (Holter);Dilakukan untuk melihat episode nyeri sehubungan dengan segmen ST berubah.Depresi ST tanpa nyeri menunjukkan iskemia .
·         Foto Dada ;biasanya normal ;namun inflitrat mungkin ada menunjukkan dekompensasai jantung atau komplikasi paru .
·         PCO2  kalium dan laktat miokard;Mungkin meningkat selama serangan angina (semua berperang dalam ikemia miokard dan dapat meningbulkanya ).
·         Kolesterol /trigeliseridaserum ;Mungkin meningkat (faktor risiko CAD).
·         Pacu stres –takikardi atrial ;Dengan menunjukkan perubahan segmen ST .LVEDP dapat mjeningkat atau masih stais dengan iskemia.Meninggi dengan nyeri dada atau perubahan ST adalah diagnostik iskemia .
·         Pemeriksaan pencitraan nuklir ;Thalium 201 ;area iskemia tanpa sebagai area yang penganbilan talium menurun.
·         Multigated  imagin (MUGA) ;Mengevaluasi penampilan ventrikel khusus dan umum ,gerakan dinding regional ,dan fraksi ejeksi .
·         Katerisasi jantung dengan angiografi; Diindikasikan pada pasien dengan iskemia yang diketahuidengan angina atau nyeri dada tanpa kerja ,pada pasien kolesterolemia dan penyakit janting keluarga yang mengalami nyeri dada ,dan pasien dgn EKG  istirahat abnormal .Hasil abnormal ada pada penyakit katup,gangguan kontraktilitas ,gagal ventrikal ,dan abnormalitas siskulasi .Catatan 10% pasien dengan angina tidak stabil tidak stabil mempunyai arteri koroner yang tampak normal.
·         Injeksi ergonovin: pasien yang mengalami angina saat istirahat menunjukkan hiperpastik pembuluh koroner

































  1. PROSES  KEPERAWATAN
a.      Pengkajian
·                     Aktivitas / istirahat
Gejala        : Pola hidup monoton
                    Kelelahan, perasaan tidak berdaya setekah latihan
                    Nyeri dada bila kerja
                    Menjadi terbangun bila nyeri dada
Tanda        : dispnea saat kerja
·                     Sirkulasi
Gejala        : Riwayat penyakit jantung
Tanda        : takikardia, distritmia
                    Tekanan darah normal, meningkat atau menurun
Bunyi jantung mungkin normal: S4 lambat atau murmur sistolik   transien lambat mungkin ada saat nyeri
                     Kulit membran mukosa lembab
·         Makanan / Cairan
Gejala        : mual, nyeri ulu hati/ epigastrium saat makan
                    Diet tinggi kolesterol/lemak, garam kafein, minuman keras
Tanda        : ikat pinggang sesak
·                     Integritas ego
Gejala        : stresor kerja, keluarga lain-lain
Tanda        : ketekutan, mudah marah
·                     Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala        : nyeri dada substernal, anterior yang menyebar ke rahang, leher, bahu, dan ekstremitas atas
Kualitas : macam ringan sampai sedang, tekanan berat, tertekan,terjepit terbakar.
Durasi : biasanya kurang dari 15 menit, kadang-kadang lebih dari 30 menit
Faktor pencetus : nyeri sehubungan dengan kerja fisik atau emosi besar seperti marah atau hasrat seksual ; olahraga pada suhu ekstrem
Faktoe penghilang : nyeri mungkin responsif terhadap mekanisme penghilang tertentu : istirahat obat antiangina
Nyeri dada tidak stabil, bervariasi, prinzmetal
Tanda        : wajah berkerut, meletakkan pergelangan tangan pada   midsternum, memijit tangan kiri, tegangan otot gelisah.
Respon otomatis : takikardi, perubahan TD
·         Pernapasan
Gejala        : dispnea saat kerja
                    Riwayat merokok
Tanda        : meningkat pada frekuensi / irama dan gangguan kedalaman.
b.      Diagnosa Keperawatan
1.      nyeri b/d fokus menyempit
2.      penurunan curah jantung b/d gangguan frekuensi / irama  dan konduksi elektrikal
3.      ansietas b/d ancaman terhadap perubahan status kesehatan
4.      kurang pengetahuan b/d informasi tidak adekuat
c.       Intervensi Keperawatan
1)      Nyeri b/d fokus menyempit
Tujuan : menyatakan nyeri hilang dengan kriteria;
Angina menurun dalam frekuensi, durasi dan beratnya
·         Kaji terjadinya pencetus ; bila ada frekuensi, durasinya, intensitas, dan lokasi nyeri.
Rasional :
Membedakan nyeri dada dini dan alat evaluasi kemungkinan kemajuan angina yang tidak stabill.
·         Letakkan pasien pada istirahat total selama episode angina
Rasional :
Memudahkan pertukaran gas untuk menurunkan hipoksia dan napas pendek berulang.
·         Tinggal dengan pasien yang mengalami nyeri atau tampak cemas
Rasional :
Cemas mengeluarkan ketakolamin yang meningkatkan kerja miokard dan dapat memajangkan nyeri iskemi
·         Pertahankan tenang, lingkungan nyaman, batasi pengunjung bila perlu
Rasional :
Stres mental meningkatkan kerja miokard
                              Kolaborasi
·         Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi
Rasional :
Meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard/mencegah iskemia.
·         Berikan obat sesuai indikasi
Rasional :
Menurunkan nyeri angina
2)      Penurunan curah jantung b/d gangguan frekuensi irama dan konduksi elektrikal
Tujuan : penurunan dispnea, angina dan distritmia menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas dengan kriteria ;
Aktivitas menurunkan kerja jantung
·         Pantau tanda vital, frekuensi jantung , TD
Rasional :
Takikardi dapat terjadi karena nyeri cemas, hipoksemia dan menurunnya curah jantung
·         Catat warna kulit dan adanya/kualitas nadi
Rasional :
Sirkulasi perfer menurun bila curah jantung turun, membuat kulit pucat dan menurunnya kekuatan nadi perifer
·         Mempertahankan tirah baring pada posisi nyaman selama episode akut
Rasional :
Menurunkan komsumsi oksigen kebutuhan kerja miokard dan resiko dekompensasi

                              Kolaborasi
·         Berikan oksigen tambahan sesuai dengan kebutuhan
Rasional :
Meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard untuk memperbaiki kontraktilitas, menurunkan iskemia, dan kadar asam laktat.
·         Berika obat sesuai indikasi
Rasional :
Menurunkan kerja jantung
3)      Ansietas b/d ancaman perubahan status kesehatan
Tujuan : ansietas menurun sampai tingkat yang dapat diatasi dengan kriteria ;
Strategi koping yang efektif
·         Jelaskan tujuan tes dan prosedur
Rasional : menrunkan cemas dan takut terhadap diagnosa dan prognosis
·         Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut.
Rasional :
Perasaan tidak diekspresikan dapat menimbulkan kekacauan internal dan efek gambaran diri.
·         Dorong keluarga dan teman untuk menganggap pasien seperti sebelumnya.
Rasional : meyakinkan pasien bahwa peran dalam keluarga dan kerja tidak berubah
                                                      Kolaborasi
·         Berikan sedatif, transquilizer sesuai indikasi
Rasional :
Membantu pasien rileks secara fisik mampu untuk membuat strategi koping adekuat
4)      Kurang pengetahuan b/d informasi tidak adekuat
Tujuan : berpartisipasi dalam proses belajar dengan kriteria ;
Menyatakan pemahaman kondisi/ proses penyakit dan pengobatan
·         Kaji kondisi, tekankan perlunya mencegah serangan angina
Rasional :
Pasien membutuhkan belajar mengapa hal itu terjadi dan apakah dapat dikontrol
·         Dorong menghindari faktor situasi yang sebagai pencetus angina
Rasional :
Dapat menurunkan insiden beratnya iskemik

·         Dorong pasien untuk mementau nadi sendiri selama aktivitas, jadwal/aktivitas sederhana dan hindari regangan
Rasional :
Membiarkan pasien meengidentifikasi aktivitas untuk menghindari stres jantung dan tetap dibawah ambang angina
·         Tekankan pentingnya mengecek dengan dokter kapan menggunakan obat-obat yang dijual bebas
Rasional :
Obat yang dijual bebas mempunyai potensi penyimpangan













DAFTAR PUSTAKA

  1. Brunner & suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta.
  2. Sylvia A. Price, Lorrain M. Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. EGC : Jakarta.
  3. Guyton. 1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. EGC : Jakarta.
  4. Doengoes Marlyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC : Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar